Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM


Abstrak
Di era transformasi digital, hampir seluruh aktivitas bisnis bergantung pada data dan teknologi informasi. Mulai dari transaksi pelanggan, sistem keuangan, inventaris, hingga komunikasi internal tersimpan dalam bentuk digital. Ketika terjadi gangguan seperti serangan siber, kerusakan server, bencana alam, atau kegagalan perangkat keras, perusahaan tidak hanya berisiko kehilangan data, tetapi juga dapat mengalami penghentian operasional yang berdampak pada kerugian finansial dan reputasi.
Untuk menghadapi risiko tersebut, organisasi perlu menerapkan dua strategi penting, yaitu Recovery Data dan Business Continuity Planning (BCP). Recovery data berfokus pada pemulihan data yang hilang atau rusak, sedangkan Business Continuity Planning merupakan rencana menyeluruh agar proses bisnis tetap dapat berjalan selama dan setelah terjadi gangguan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun ketahanan organisasi terhadap berbagai ancaman.
Apa Itu Business Continuity Planning (BCP)?
Business Continuity Planning (BCP) adalah proses penyusunan kebijakan, prosedur, dan strategi untuk memastikan fungsi-fungsi bisnis yang kritis tetap berjalan atau dapat dipulihkan dalam waktu yang telah ditentukan setelah terjadi gangguan. BCP tidak hanya mencakup teknologi informasi, tetapi juga mencakup sumber daya manusia, komunikasi, fasilitas, dan proses operasional. Disaster Recovery Plan (DRP) biasanya menjadi bagian dari BCP yang secara khusus menangani pemulihan sistem dan infrastruktur TI.
Recovery data merupakan salah satu komponen penting dalam BCP.
Hubungan keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Recovery data :
Business Continuity Planning :
1.Berfokus pada keberlangsungan seluruh proses bisnis
2.Mencakup SDM, proses bisnis, fasilitas, komunikasi, dan TI
3. Disusun sebelum terjadi gangguan
4. Mencakup disaster recovery plan secara keseluruhan
Organisasi menghadapi berbagai ancaman, antara lain:
BCP membantu organisasi mengurangi waktu henti (downtime), melindungi data, menjaga layanan tetap berjalan, dan meminimalkan dampak finansial ketika insiden terjadi.
Agar pemulihan berjalan efektif, organisasi dapat menerapkan strategi berikut:
Melakukan pencadangan data secara otomatis sesuai jadwal untuk mengurangi risiko kehilangan data.
Menyalin data secara real-time ke lokasi lain sehingga data tetap tersedia jika sistem utama gagal.
Memanfaatkan layanan cloud sebagai lokasi pemulihan sehingga proses restore dapat dilakukan lebih cepat.
Membuat salinan sektor demi sektor pada media penyimpanan sebelum melakukan proses recovery.
Melakukan simulasi pemulihan secara berkala untuk memastikan backup dapat digunakan saat dibutuhkan.
Sebuah perusahaan e-commerce menyimpan seluruh data transaksi pelanggan di server utama.
Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, perusahaan menerapkan:
Suatu hari server utama mengalami kegagalan akibat gangguan listrik. Berkat penerapan BCP, sistem dialihkan ke server cadangan, data dipulihkan dari salinan terbaru, dan operasional dapat kembali berjalan dalam waktu yang telah ditargetkan.
Penerapan recovery data sebagai bagian dari BCP memberikan berbagai manfaat:
Recovery data dan Business Continuity Planning merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam menjaga ketahanan organisasi. Recovery data memastikan informasi penting dapat dipulihkan setelah terjadi insiden, sedangkan Business Continuity Planning memastikan proses bisnis tetap berjalan dengan gangguan seminimal mungkin. Dengan menerapkan backup yang terencana, Disaster Recovery Plan yang terdokumentasi, target RTO dan RPO yang jelas, serta pengujian berkala, organisasi dapat meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman, mengurangi risiko kehilangan data, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan di era digital.